0

Contoh Kepribadian Kognitif dan Behavioristik dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh tipe-tipe kepribadian:

           Nama saya Yuli, menurut sahabat saya, saya ini orangnya ceria, mudah bergaul, memiliki suara yang keras, mudah terpengaruh dan sedikit emosional. Saya pun merasakan  hal tersebut ada di diri saya, sehingga saya mungkin termasuk orang yang memiliki kepribadian tipe sanguinis. Hal ini jelas berbeda dengan tipe kepribadian yang dimiliki sahabat saya. Menurut saya, dia adalah orang yang berkepribadian koleris dengan keberaniannya untuk tampil di depan umum, memiliki tujuan yang jelas, mandiri, dan bahkan sebagai wanita dia berani untuk mencalonkan diri sebagai ketua kelas sampai akhirnya dia terpilih menjadi ketua kelas saat kami masih di bangku kelas 1 SMA. Lalu bagaimanakah tipe kepribadian Anda ? Apakah Anda memiliki tipe kepribadian plegmatis, sanguinis, koleris, atau melankolis?

 

Contoh kognitif :

            Ketika kita sedang menimba ilmu di sekolah, biasanya guru memberi kita tugas. Sesampainya di rumah orang tua kita biasanya mengontrol dan menyuruh kita untuk mengerjakan tugas dari guru. Sehinngga kita teringat tentang tugas yang diberikan guru di sekolah, lalu mengerjakan tugas tersebut dan mempersiapkannya dengan baik. Selain itu, ketika kita sedang mendengarkan sebuah musik yang kita suka, secara otomatis kita akan hafal dengan liriknya. Dan disaat kita mendengarkan musik terebut secara tidak sengaja, maka kita akan langsung bernyanyi melantunkan lirik lagu tersebut. Kedua ilustrasi diatas merupakan contoh dari sikap kognitif.

 

Contok behavioristik:

            Banyak sekali perilaku yang kita lakukan, baik itu perilaku yang baik ataupun yang buruk. Yang menjadi sorotan sekarang ini adalah mengenai perilaku remaja yang menyimpang. Jangan terlalu jauh menilai keluar, kita telaah saja perilaku remaja di lingkungan kita sendiri. Misalnya di lingkungan kampus, masih banyak mahasiswa yang tidak mematuhi peraturan seperti tata cara berpakaian, membuang sampah sembarangan, keterlambatan hadir, atau bahkan sampai bolos kuliah dan masih banyak lagi perilaku menyimpang lainnya. Jika kita harus memilih diantara perilaku baik dengan perilaku menyimpang, manakah yang akan kita pilih ? Tentunya perilaku yang baik bukan ? Maka dari itu, taatilah peraturan yang berlaku dan jadilah mahasiswa yang berkualitas dan berguna bagi nusa dan bangsa.

 

Advertisements
0

Paradigma Psikologi Kepribadian Kognitif dan Behavioristik

Paradigma Psikologi Kepribadian

a. Pengertian paradigma

par

          Paradigma adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama.

          Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik).

          Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), paradigma adalah ling daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut, selain itu paradigma juga dapat diartikan sebagai suatu model  dalam teori ilmu pengetahuan atau sebagai kerangka berpikir.

b. Pengertian psikologi

psikologi

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), psikologi merupakan ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku atau bisa juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa.

          Ada banyak ahli yang mengemukakan pendapat tentang pengertian psikologi, diantaranya:

  1. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
  2. Menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
  3. Menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

          Ada hal-hal tertentu yang membentuk inti dari psikologi, diantaranya adalah termasuk persepsi, perhatian, bahasa, penilaian, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, kecerdasan dan memori. Pikiran adalah proses yang terjadi di otak maka psikologi membahas fungsi otak manusia, bagaimana otak menyimpan data, bagaimana hal-hal bisa dikategorikan dalam otak, bagaimana manusia menilai probabilitas, bagaimana merencanakan, dsb.

 c. Pengertian kepribadian

index

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dengan orang atau bangsa lain.

          Menurut Gordon W.Allport, kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Interaksi psiko-fisik inilah yang mengarahkan tingkah laku manusia.

          Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).

Kepribadian dapat digolongkan menjadi 4 tipe, diantaranya :

kep

  1. Plegmatis, yaitu tipe orang yang penyabar tapi motivasinya rendah, simpatik dan baik hati, cenderung mengerjakan sesuatu dengan lama namun terorganisir, mudah diajak rukun dan damai, sering menunda pekerjaan, terlalu pemalu dan pendiam.
  2. Sanguinis, yaitu tipe orang yang periang, mudah bergaul, antusias dan ekspresif, senang berbicara, emosional, mudah terpengaruh masalah orang lain, membesar-besarkan suatu kejadian, meminta saran untuk hal yang sepele, berhati tulus dan kekanak-kanakan, susah diam, mudah berubah-ubah, pemaaf dan tidak pendendam.
  3. Melankolis, yaitu tipe orang yang perasa, mempunyai kreatifitas yang tinggi, tekun, sensitif, mau mengorbankan diri, cenderung melihat masalah dari sisi negatif, perfeksionis, mudah merasa bersalah, sulit bersosialisasi, rasa curiga yang besar.
  4. Koleris, yaitu tipe orang yang berjiwa pemimpin, motivasi yang kuat, mandiri, egois, berani menghadapi tantangan, tergesa-gesa dalam membuat keputusan, menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.

Seseorang bisa saja dikatakan memiliki kepribadian tipe melankolis, plegmatis atau yang lainnya berdasarkan ciri-ciri diatas. Namun tidak menutup kemungkinan seseorang itu memiliki lebih dari satu kepribadian, misalnya orang tersebut dominan plegmatis dan sedikit sanguinis atau lain sebagainya.

          Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang diantaranya:

   1. Faktor genetik.

       Kepribadian seseorang tidak terlepas dari asal mula orang itu dilahirkan dan gen menjadi salah satu faktor penentunya. Seseorang pasti memiliki sifat atau kepribadain seperti ayanhnya atau ibunya. Tapi tidak semua sifat berasal dari orang tuanya, masih banyak faktor yang mempengaruhi sehingga seseorang mempunyai kepribadiannya sendiri.

   2. Faktor linkungan.

       Lingkungan adalah tempat dimana seseorang tumbuh dan berkembang. Lingkungan menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan kepribadian seseorang tergantung bagaimana seseorang itu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

   3. Faktor stimulasi gen dan cara berpikir.

       Gen berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, namun disini gen bisa dipengaruhi pula oleh cara berpikir seseorang. Sehingga kepribadian yang ditimbulkan merupakan kolaborasi dari faktor  genetik dan pemikiran orang tersebut.

          Sebenarnya kepribadian adalah sumbangsih atau pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan. Ada beberapa ahli yang beranggapan bahwa segalanya telah diprogram dalam genetik. Beberapa ahli lain menyatakan bahwa faktor belajar dan lingkungan memegang peranan yang sangat menentukan. Perpaduan kedua faktor itu dinamakan Anna Anastasia, dimana keduanya membentuk kepribadian manusia.

          Perkembangan kepribadian dalam teori psikoanalisis Erickson

  1. Trust VS Mistrust (0-1/1,5 tahun).
  2. Otonomi VS Rasa Malu dan Ragu ( early chilhood : 1/1,5-3 tahun).
  3. Inisiatif VS Rasa Bersalah (late chilhood:3-6th).
  4. Industri VS Inferiority ( usia sekolah:6-12 tahun).
  5. Identitas dan Penolakan VS difusi Identitas ( masa remaja: 12-20 tahun).
  6. Intimasi dan Solidaritas VS Isolasi (Early adulthood : 20-35 th). Perkembangan.
  7. Generativitas VS Stagnasi/ mandeg ( middle adulthood : 35-65 th ).
  8. Integritas VS Keputusasaan (later years: diatas 65 th).

          Perkembangan Kepribadian ( Harry Stack Sullivan)

  1. Masa bayi : Kebutuhan akan rasa aman dalam mengembangkan rasa percaya yang mendasar (basic trust).
  2. Masa kanak-kanak awal: belajar berkomunikasi
  3. Pra sekolah : mengembangkan body image
  4. Usia sekolah : mengembangkan hubungan dengan sebaya, melalui kompetisi, kompromi dan kooperatif
  5. Remaja : mengembangkan kemandirian,melakukan hubungan dengan jenis kelamin yang berbeda
  6. Dewasa : belajar untuk saling tergantung, tanggung jawab terhadap orang lain.

Teori Kognitif

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kognitif adalah sesuatu yang berhubngan dengan atau melibatkan kognisi, juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang berdasar kepada pengetahuan faktual yang empiris. Sedangkan arti dari kata kognisi sendiri adalah kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Selain itu kognisi merupakan sosial proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang dan hasil pemerolehan pengetahuan.

          Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang yang muncul dalam psikologi. Cabang psikologi ini berhubungan dengan proses mental dan mempelajari bagaimana manusia melihat, berpikir, memahami, mempelajari, dan mengingat hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Psikologi kognitif juga berkaitan dengan ilmu saraf, linguistik, kecerdasan buatan, ilmu menghitung, antropologi, biologi, fisika, filsafat, dan lebih menekankan pada eksperimen dan verifikasi. Berbagai psikolog telah membuat pernyataan setelah melakukan berbagai penelitian, sehingga cabang ini relatif lebih ilmiah daripada bidang psikologi yang lain, di mana tidak ada bukti nyata yang dapat diberikan.

kog

          Studi psikologi kognitif dimulai sejak abad ke-18 namun tidak populer, dan baru sangat populer di abad ke-20. Alasan ketidakpopuleran ini adalah munculnya behaviorisme. Para ahli mulai belajar behaviorisme untuk mengetahui solusi masalah psikologis. Tetapi behaviorisme memiliki keterbatasan sendiri, karena hanya berurusan dengan perilaku manusia yang diamati, sedangkan kognisi adalah proses yang berbeda dan berkaitan dengan proses mental internal.
Teori kognitif didasarkan pada penelitian ilmiah dan studi yang diverifikasi. Revolusi kognitif dimulai pada tahun 1950-an, ketika para peneliti di berbagai bidang mulai mengembangkan teori pikiran dan otak, berdasarkan proses komputasi dan representasi kompleks. Banyak psikolog seperti Noam Chomsky, Jean Piaget, Wolfgang Kohler, Edward Tolman, William James, Gustav Fechner, dll memberikan kontribusi bagi pemahaman akan psikologi melalui berbagai penelitian ilmiah dan eksperimen yang membantu dalam munculnya terapi perilaku kognitif. Pada 1960-an, menjadi dominan dan menjadi salah satu cabang yang muncul dalam psikologi.

Teroi Behavioristik

2

          Behavioristik dapat diartikan sebagai perilaku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.

          Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan.

          Teori-teori behavioristik yaitu proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan prilaku. Pendekatan behavioristik terhadap kepribadian memiliku dua asumsi dasar, yaitu:

  1. Perilaku dijelaskan melalui pengaruh lingkungan terhadap diri individu.
  2. Pemahaman terhadap manusia harus dibangun berdadsarkan riset ilmiah objektif, dikontrol dengan seksama dalam eksperimen labiratorium.

          Ciri-ciri teori behavioristik:

  1. Mementingkan faktor lingkungan.
  2. Menekankan pada faktor bagian.
  3. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode objektif.
  4. Bersifat mekanis.
  5. Mementingkan masa lalu.

          Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang, diantaranya adalah:

  1. Keluarga. Tempat yang paling pertama kita kenal adalah keluarga. Keluarga menjadi acuan utama bagi seseorang dalam pembentukkan tingkah lakunya. Karena didalam keluarga orang tua mengajarkan anaknya dari kecil sampai tumbuh menjadi besar.
  2. Teman. Setelah keluarga, faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah teman sepermainan. Dengan adanya teman seseorang menjadi lebih aktif, terbuka, saling bertukar pikiran, dan saling mempengaruhi satu sama lain.
  3. Sekolah. Disekolah seorang guru mengajarkan hal-hal yang baik terhadap muridnya, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk berprerilaku tidak baik selama atau setelah mengenyam bangku sekolah. Hal ini bergantung pada bagaimana cara guru mendidik dan cara murud menerima didikan dari gurunya.
  4. Media massa. Banyak informasi yang bisa diperoleh seseorang melalui media massa, seperti berita di televisi, majalah, koran, tabloid dan internet. Berita yang ditampilkan di media massa ini bersifat umum, yaitu mencangkup segala sesuatu yang positif dan negatif, tergantung dari kondisi saat itu. Siapapun dapat membaca, menonton, dan mengaksesnya dengan mudah, sehingga mudah sekali untuk mempengaruhi perilaku seseorang.

          Dari semua faktor diatas, tentunya dikembalikan lagi kepada cara pandang dan pemikiran orang tersebut terhadap informasi atau pengaruh yang ia terima. Sehingga itulah yang menjadi bahan dasar yang penting dalam membentuk perilaku yang positif maupun negatif.

Referensi:

http://artikel1.coffemix.com/xmlrpc.php

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/

http://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=DaAOiNyvWF0C&oi=fnd&pg=PA5&dq=psikologi+kepribadian&ots=-N3ZCOc9-5&sig=z_mRzA_ZERXNOQQ00yJk2MXhtW0&redir_esc=y#v=onepage&q=psikologi%20kepribadian&f=false

http://ebookbrowsee.net/gdoc.php?id=543273740&url=3fe707d3a1e689389a8aff3c3521a9ba

http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma

http://indonesiaindonesia.com/f/41470-4-tipe-kepribadian-dunia-psikologis/

http://kamusbahasaindonesia.org